Bijih
besi terutama yang kaya akan mineral magnetit akan mudah terdeteksi dengan
metode geomagnet pada kegiatan eksplorasi. Studi in mengunakan data hasil
kegiatan eksplorasi di daerah Sumatera Barat yang memiliki keterdapatan bijih
besi yang kaya akan mineral magnetite bersifat magnetik pada batuan host
granit. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengaplikasikan pemodelan 3D data
geomagnetik sehingga dapat menggambarkan bentuk 3D anomali magnet yang
diperkirakan sebagai akumulasi bijih besi.
Pengambilan
data geomagnet dilakukan setiap 5 m pada 63 jalur pengukuran. Alat yang
digunakan terdiri dari 3 unit proton magnetometer dimana 1 unit digunakan pada
base station serta 2 unit digunakan dalam pengambilan data. pengukuran dengan spasi line dan spasi titik di atas merupakan pengukuran detail, ini diperlukan karena eksplorasi yang dilakukan berupa biji besi yang mempunyai dimensi yang relatif kecil dan biasanya berbentuk spot-spot dalam penyebaranya(pengamatan permukaan), tetapi untuk bawah permukaan bisa saja body yang ada merupakan dimensi yang besar, survey geologi sangat penting untuk menentukan survey lanjutan dan design surveynya.
gambar 1 liantasan survey magnetik
Secara
umum pengolahan data geomagnetic yang dilakukan adalah untuk mendapatkan harga
Intensitas Total Magnet dalam bentuk peta sebaran. Sebelum didapatkan harga
intensitas total magnet tersebut koreksi diurnal dilakukan dari data
geomagnetic yang diukur pada sepanjang jalur lintasan dan base stasion (Gambar
1). Harga anomali magnetik di-plot pada posisi titik pengamatan dan dibuat
kontur, yaitu garis-garis yang menghubungkan titik-titik daengan harga anomali
magnetik yang sama. Peta kontur anomali
magnetik pada umumnya diberi kode warna sesuai dengan harga anomali magnetik
dan diberi efek pencahayaan sehingga menimbulkan efek relief (colour shaded
relief). Hal tersebut dimaksudkan
untuk memperjelas dan mempermudah interpretasi kualitatif.
Sifat dwi-kutub dari
fenomena geomagnetik menyebabkan anomali magnetik umumnya membentuk pasangan
anomali positif dan negatif dalam arah Utara – Selatan (Milsom, 2003). Proses reduksi ke ekuator (reduced to
equator) dan reduksi ke kutub (reduced to pole) bertujuan untuk
mensimulasikan kondisi di mana medan magnet yang menginduksi batuan memiliki
arah horizontal. Melalui proses reduksi tersebut diharapkan anomali tidak lagi
bersifat dwi-kutub dimana efek batuan yang termagnetisasi digambarkan sebagai
anomali negatif atau rendah pada posisi yang tepat di atas penyebab anomali
tersebut. Gambar 2 memberikan ilustrasi
konsep reduksi ke ekuator dan juga reduksi ke kutub dari suatu anomali magnetik
yang disebabkan oleh benda anomali berupa prisma yang terletak pada daerah
dengan inklinasi -20o. Hasil
proses reduksi ke kutub sering dianggap lebih intuitif karena formasi batuan
yang memiliki sifat kemagnetan tinggi menghasilkan anomali positif yang tepat
berada pada posisi formasi batuan tersebut. Berdasarkan hal tersebut posisi sumber
penyebab anomali dapat diperkirakan secara kualitatif berdasarkan peta anomali
magnetik yang telah direduksi ke kutub.
gambar 2 Efek RTP dan RTE ketika di reduksi
Dari
hasil proses filter reduksi ke kutub tersebut selanjutnya dilakukan teknik transformasi data atau anomali magnetik
kontinuasi ke atas (upward continuation). Hasil transformasi tersebut diperoleh data
pengamatan baru seolah-olah pengukuran dilakukan pada elevasi yang lebih tinggi
dari pengamatan yang sebenarnya. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghilangkan
atau mengurangi efek sumber penyebab anomali yang terletak di dekat
permukaan. Pengamatan yang terlalu dekat dengan sumber penyebab anomali
menimbulkan data dengan amplitudo dan frekuensi spasial yang tinggi sehingga mengaburkan
gambaran global atau pola umum dari data.
Dari masing-masing elevasi yang didapatkan dari
transformasi ke atas maka didapatkan serangkaian data yang dapat dikembang kan
menjadi model 3D anomali magnetik.
gambar 3 sebaran keterdapatan biji besi
gambar 4 peta intensitas magnetik total
gambar 5 peta RTP
Dari hasil penggabungan zonasi berdasarkan
ketedapatan singkapan bijih besi dan zonasi anomali magnet, terdapat 2 zona
anomali magnet yang sedikit memiliki keterdapatan singkapan yaitu zona 4 dan 6.
2 zonasi utama yang berkorelasi dengan keterdapatan singkapan utama yaitu zona
1 dan 2 (Gambar 6). Data anomali magnetik tereduksi ke kutub yang di
transformasi secara upward continuation (menerus keatas) sampai
kedalaman 100 m menunjukan bahwa zonasi 1 dan 2 memiliki anomali yang menerus
sampai 100 m, sementara zonasi yang lain kurang menerus.
gambar 6 peta RTP overlay dengan data permuakaan
Hasil
pemodelan 3D dari data geomagnet terutama pemodelan 3D anomali magnetik
tereduksi ke kutub menunjukan bahwa terdapat 6 tubuh anomali magnetik yang
berkorelasi dengan keterdapatan bijih besi magnetit di permukaan. Secara umum
hasil pemodelan 3-D anomali magnetik menunjukan kemenerusan di bawah permukaan
sampai kedalaman 100 m dari permukaan. Akan tetapi zona anomali tersebut
memperlihat bentuk yang mengecil ke kedalaman. Dari keenam anomaly magnetik
yang ada 2 tubuh anomali menunjukan kemenerusan yang stabil sampai kedalaman
100 m yaitu pada adalah zona 1 dan zona 2.
gambar 7 pembuatan solid model dari data magnetik yang tereduksi ke atas
gambar 8 contoh pemodelan susceptibility 3D






Tidak ada komentar:
Posting Komentar