Jumat, 22 Maret 2013

EKSPLORASI BATUBARA DENGAN METODE MAGNET

Metode magnet untuk batubara memang masih trus dikembangkan,karena keterkaitan antara respon yang didapatkan dari pengukuran magnet dengan korelasi dengan kondisi geologi daerah survey. 
Korelasi pengukuran magnet dengan eksplorasi batubara sebenarnya tidak berkaitan secara langsung, tetapi didaerah dengan endapan dan aliran lava ataupun intrusi akan membantu zonasi dan identifikasi keterdapatan batubara, secara pendekatan skunder, batubara lebih didekati di daerah sedimentasi bukan di daerah batuan vulkanik atau intrusi, tapi tidak jarang batubara diapit oleh lava vulaknik sehingga mengakibatkan batubara menjadi kalori lebih tinggi tapi karena ada tekanan dari semua arah sehingga batubara relatif lebih tipis.

gambar peta lokasi pengukuran

Pendekatan dari segi sedimentasinya ini banyak diterapkan di daerah sumatera dengan kombinasi dan formasi yang beragam, mulai dari pasir,batuan vulkanik,andesit,ignimbrit,tufa,sandstone, dan lainya. Ini menjadikan metode magnet berguna untuk memetakan batubara. Bewaral dari informasi geologi berupa geologi regional dan identifikasi batubara regional, maka dengan melakukan grid survey yang konstan akan membantu untuk mendeliniasi struktur, sediment dengan batuan lainya dan juga ketebalanya.

gambar overlay data Lidar dengan data magnetik

Data magnetik untuk interpretasinya membutuhkan data-data pendukung seperti data lidar,data mapping,data geologi regional. Data lidar sendiri membantu interpretasi data magnet apakah daerah tersebut merupakan daerah endapan,aliran lava ataupun daerah struktur(struktur permukaan), sedangkan data mapping untuk mengidentifikasi serpihan batubara dan body batubara dan arah dip-strikenya. Data geologi regional dibutuhkan untuk membantu interpretasi apakah batubara yang ada di daerah sedimen itu merupakan batubara muda(beda formasi) atau kah kemenerusan formasi lainya, sehingga ada keterkaitan interpretasi yang solid dari beberapa data

gambar reduce to pole data

Pengeboran dilakukan untuk membuktikan apakah daerah dengan zona sediment merupakan batubara atau bukan, dan pengukuran akurasi ketebalanya. Pengeboran ini sangat menentukan apakah data yang kita ambil benar atau tidak dan juga prosesnya karena ini berkaitan dengan cost yang sangat tinggi, keakuratan interpretasi sangat bergantung dengan QC data magnet itu sendiri, mulai dari penentuan lintasan,arah lintasan,traverse,informasi-informasi lapangan yang berkaitan dengan pengukuran seperti sungai,rumah dan apapun yang membantu interpretasi, karena geophysicist tidak tiap hari berada di lapangan bersama operator.


gambar reduce to pole data magnet

Data reduce to pole belum tentu mengindikasikan keterdapatan batubara di zona biru(sediment) tetapi harus diingat bahwa respon yang di peroleh dari data RTP(reduce to pole) hanya merupakan composite dari data permukaan sampai kedalaman tertentu, sehingga dibutuhkan proses lain untuk mengetahui sebaran vertikalnya. Ini bisa dilakukan dengan menerapkan filter pada data sehingga kita yakin apakah yang kita rekomendasikan untuk dilakukan pengeboran adalah daerah sedimen yang berasosiasi dengan batubara.

Tidak ada komentar: