Senin, 25 Maret 2013

EKSPLORASI BATUBARA DENGAN METODE GEOLISTRIK(CS)


Pengukuran geolistrik secara lateral mapping (2D) telah dilakukan pada lokasi test case batubara di lokasi xx, sebanyak 2 lintasan, dengan panjang masing-masing lintasan 1 km. Pengukuran geolisrik pada lintasan (@ 1 km) dilakukan sebanyak 3 kali pengukuran (@400m).. Agar panjang lintasan 1 km tercover semua, maka dilakukan pengukuran overlap setiap 100m. 

Estimasi nilai resistivity batuan didaerah penelitian ditentukan dengan cara mengkorelasikan data bor dengan penampang resistivity hasil pengukuran geolistrik. Nilai resistivity batubara hasil korelasi data bor dengan penampang resistivity, ditunjukkan pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Nilai resistivity batubara di daerah penelitian Argamakmur
Lintasan
Jarak pada lintasan (m)
Bor ID
Ketebalan batubara (m)
Kedalaman batubara dari data bor (m)
Kedalaman batubara dari penampang resistivity (m)
resistivity (Ohm.m)
L1
400
600xx2
1.05
48.5
56
 176
640
600xx0
1.1
12.3
14.5
 176
L2
80
60xx40
0.94
45.94
43.9
 366

Nilai resistivity batuan lainnya hasil korelasi data bor, ditunjukkan pada tabel 3.2.
     Tabel 1  Nilai resistivity batuan di daerah penelitian xx
No
Litologi
Resistivity (Ohm.m)
1
Coal
176 – 366
2
Andesite
1450 - 11000
3
Sandstone
400 – 1400
4
Mudstone
1 – 160

Nilai resistivity pada table 1 selanjutnya digunakan sebagai referensi untuk memprediksi keberadaan lapisan batubara.

Berdasarkan data referensi nilai resistivity batubara (tabel 1), maka indikasi batubara pada lintasan 1 terdapat pada kedalaman 14,5m (jarak pada lintasan 640m) dan kedalaman 56m (jarak pada penampang 400m), dengan nilai resistivity + 176 Ohm.m. Ketebalan batubara yang terdeteksi dari pengukuran ini sekitar + 1m, sedangkan ketebalan batubara kurang dari 1m tidak terdeteksi. Hal ini bisa diakibatkan beberapa faktor, diantaranya :
·         Karena lapisan batubaranya tipis < 1m, maka pengaruh nilai resistivity clay / mudstone lebih dominan dibandingkan batubara, sehingga nilai resistivity yang terukur lebih mendekati nilai resisitivity clay / mudstone.
·         Resolusi data masih kurang tinggi, dalam pengukuran ini menggunakan 41 elektroda dengan jumlah data per pengukuran sekitar 550 data, dalam pengukuran geolistrik resolusi tersebut sudah termasuk resolusi tinggi dibandingkan dengan pengukuran Dipole-Dipole 2D yang konvensional (170 data).
Penampang resistivity lintasan 1 ditunjukkan pada gambar 3.1. Selain batubara pada penampang tersebut terdeteksi juga litologi lainnya,: andesite, sandstone dan mudstone (pada gambar 3.1 ditunjukkan dengan tanda panah). Selain litologi, pada penampang lintasan 1 ditemukan indikasi struktur (patahan), yaitu pada bagian tengah penampang.


                                Patok Elektroda
X (m)
Y  (m)
Arah Lintasan
                           L1-33
196xxx50.8  
96xxx036
Baratdaya
                             L1-101
196xxx43.1
96xx883
Timurlaut





gambar 1 Penampang Resistivity Lintasan 1

 Patok Elektroda
X (m)
Y  (m) 
Arah Lintasan
L1-33
196xxx.8
961xxxx
Baratdaya
L1-101
196xxx.1
961xxxx
Timurlaut




gambar 2 Penampang Resistivity Lintasan 2

Berdasarkan data referensi nilai resistivity batubara (tabel 1), maka indikasi batubara pada lintasan 2 terdapat pada kedalaman 43,9m, pada jarak lintasan pengukuran 80m, dengan nilai resistivity 366m. Indikasi batubara pada gambar 2 ditunjukkan dengan tanda panah. Pada lintasan 2 didominasi oleh mudstone dan sandstone, sedangkan beberapa bolder (andesite) ditemukan dekat ke permukaan seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.



Tidak ada komentar: