Pengukuran
geolistrik secara lateral mapping
(2D) telah dilakukan pada lokasi test case batubara di lokasi xx,
sebanyak 2 lintasan, dengan panjang masing-masing lintasan 1 km. Pengukuran
geolisrik pada lintasan (@ 1 km) dilakukan sebanyak 3 kali pengukuran (@400m)..
Agar panjang lintasan 1 km tercover semua, maka dilakukan pengukuran overlap
setiap 100m.
Estimasi
nilai resistivity batuan didaerah penelitian ditentukan dengan cara
mengkorelasikan data bor dengan penampang resistivity hasil pengukuran
geolistrik. Nilai resistivity batubara hasil korelasi data bor dengan penampang
resistivity, ditunjukkan pada tabel 3.1.
Tabel 3.1 Nilai resistivity
batubara di daerah penelitian Argamakmur
Lintasan
|
Jarak
pada lintasan (m)
|
Bor
ID
|
Ketebalan
batubara (m)
|
Kedalaman
batubara dari data bor (m)
|
Kedalaman
batubara dari penampang resistivity (m)
|
resistivity
(Ohm.m)
|
L1
|
400
|
600xx2
|
1.05
|
48.5
|
56
|
176
|
640
|
600xx0
|
1.1
|
12.3
|
14.5
|
176
|
|
L2
|
80
|
60xx40
|
0.94
|
45.94
|
43.9
|
366
|
Nilai
resistivity batuan lainnya hasil korelasi data bor, ditunjukkan pada tabel 3.2.
Tabel 1
Nilai resistivity batuan di daerah penelitian xx
No
|
Litologi
|
Resistivity (Ohm.m)
|
1
|
Coal
|
176
– 366
|
2
|
Andesite
|
1450
- 11000
|
3
|
Sandstone
|
400
– 1400
|
4
|
Mudstone
|
1
– 160
|
Berdasarkan
data referensi nilai resistivity batubara (tabel 1), maka indikasi batubara
pada lintasan 1 terdapat pada kedalaman 14,5m (jarak pada lintasan 640m) dan
kedalaman 56m (jarak pada penampang 400m), dengan nilai resistivity +
176 Ohm.m. Ketebalan batubara yang terdeteksi dari pengukuran ini sekitar +
1m, sedangkan ketebalan batubara kurang dari 1m tidak terdeteksi. Hal ini bisa
diakibatkan beberapa faktor, diantaranya :
·
Karena lapisan batubaranya
tipis < 1m, maka pengaruh nilai resistivity clay / mudstone lebih dominan
dibandingkan batubara, sehingga nilai resistivity yang terukur lebih mendekati
nilai resisitivity clay / mudstone.
·
Resolusi data masih kurang
tinggi, dalam pengukuran ini menggunakan 41 elektroda dengan jumlah data per
pengukuran sekitar 550 data, dalam pengukuran geolistrik resolusi tersebut
sudah termasuk resolusi tinggi dibandingkan dengan pengukuran Dipole-Dipole 2D
yang konvensional (170 data).
Penampang
resistivity lintasan 1 ditunjukkan pada gambar 3.1. Selain batubara pada
penampang tersebut terdeteksi juga litologi lainnya,: andesite, sandstone dan
mudstone (pada gambar 3.1 ditunjukkan dengan tanda panah). Selain litologi, pada
penampang lintasan 1 ditemukan indikasi struktur (patahan), yaitu pada bagian
tengah penampang.
Patok
Elektroda
|
X (m)
|
Y (m)
|
Arah
Lintasan
|
L1-33
|
196xxx50.8
|
96xxx036
|
Baratdaya
|
L1-101
|
196xxx43.1
|
96xx883
|
Timurlaut
|
gambar 1 Penampang Resistivity Lintasan 1
Patok
Elektroda
|
X (m)
|
Y (m)
|
Arah
Lintasan
|
L1-33
|
196xxx.8
|
961xxxx
|
Baratdaya
|
L1-101
|
196xxx.1
|
961xxxx
|
Timurlaut
|
gambar 2 Penampang Resistivity Lintasan 2
Berdasarkan data referensi nilai
resistivity batubara (tabel 1), maka indikasi batubara pada lintasan 2
terdapat pada kedalaman 43,9m, pada jarak lintasan pengukuran 80m, dengan nilai
resistivity 366m. Indikasi batubara pada gambar 2 ditunjukkan dengan tanda
panah. Pada lintasan 2 didominasi oleh mudstone dan sandstone, sedangkan
beberapa bolder (andesite) ditemukan dekat ke permukaan seperti yang
ditunjukkan pada gambar 2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar