Penentuan reflektivitas yang merepresentasikan lapisan bawah permukaan sering menjadi suatu penelitian yang penting dalam dunia eksplorasi minyak dan gas bumi.Asumsi selama ini bahwa wavelet yang di gunakan untuk estimasi reflektivitas(dekonvolusi) merupakan time invariant wavelet(wavelet teratenuasi). Pada kenyataanya data seismic yang di rekam dalam seismogram merupakan konvolusi antara wavelet yang teratenuasi dengan reflektivitas lapisan bumi. Maka perlu adanya metode yang mengasumsikan bahwa wavelet bervariasi terhadap waktu atau kedalaman. Adalah dekonvolusi Gabor yang mengasumsikan wavelet teratenuasi(time variant wavelet) dengan mendekomposisikan signal dalam beberapa segemen wavelet dengan windowing(pe-window-an) menggunakan Gaussian window.
Selasa, 10 Februari 2009
Jumat, 23 Januari 2009
FORWARD DAN INVERSI MODELING DATA MAGNETIK
euler deconvolution used for structure in the basement.From reduce to pole data, we can slice the data with upward continuation and correlation with depth information with general basement.
interpretation of magnetic and gravity data can be used deconvolution of euler,in above shown flow from 3D Euler interpretation of gravity and magnetic data.
picture 3 griding result at dx dy dz component
figure euler deconvolution result from upward data(100 scale depth)
figure structure index from euler deconvolution
interpretation of magnetic and gravity data can be used deconvolution of euler,in above shown flow from 3D Euler interpretation of gravity and magnetic data.
picture 3 griding result at dx dy dz component
picture 4 Analytic signal using euler process
FORWARD AND INVERSION(GRAVITY DATA)
Computation of gravity station is necessary to correct for all the factors that are not due to the density contrast in the subsurface. The earth model is a function of several effects such as the latitude correction, the free air correction and finally the Bouguer correction. And the observed gravity is a function of the conversion factor for specific meter, drift correction adn tidal correction.
figure 1 work flow field gravity data reduction
Drift Correction
A phenomenon known as drift occurs in every gravimeter. Drift is defined as the change in the elasticity of the springs over time and is different for every gravimeter. Correction to the observed gravity readings for instrument drift requires one to occupy a base station several times during the day of the survey. It is important to take readings periodically because of the erratic nature of drift.The meter reading is plotted against time and it is assumed that drift is linear between re-occupations. The drift correction is then substracted for each station.
Tidal Correction
Latitude Correction
Free Air Correction
Bouguer Correction
Preliminary processing to convert observed values into gravity value carried out at the base camp to allow rapid quality control (QC) of the field data. Figure 1 shows a work flow for field gravity data reduction and figure 2 shows a result of field gravity data reduction. Table 1 shown an example of calculation of observed gravity value.
table 1 Example of calculation of observed gravity value
figure 2 A work flow for the final gravity reduction

GRAVITY MODELLING
konsep inversi memang sering di dengar oleh sebagian orang yang bergelut di dunia modeling data,baik itu data pertambangan maupun data permnyakan.
untuk postingan kali ini saya mengangkat tema tentang inversion modeling of gravity and magnetic data.
picture 1 Inversion result of 3D modeling for top carbonate at xx island
model yang jadi input untuk proses inversi di dapat dari proses 2D model yang di modelkan dari line seismik dan gravity anomaly. Dengan acuan drill Hole dan map of carbonate depth kita dapatkan surface dari top carbonate yang di lakukan dari proses griding. Proses inversi ini di lakukan dengan tujuan untuk mendapatkan depth of carbonate yang mendekati depth dari drill Hole-nya. Dengan iterasi modeling 100 kali dan iterasi model 10 kali kita bisa dapatkan error yang tidak terlalu jauh dengan nilai di bawah 5m/15feet.
Model metode yang di gunakan juga merupakan model metode yang di kembangkan oleh penafsiran2 dari para ahli geofisika tentang gravity. pada proses ini penentuan lapisan karbonat dari data pengukuran hanya bisa di lakukan dengan melakukan re calculation terhadap data anomaly residual tahap pertama, selanjutnya dari data regional kita lakukan perhitungan ulang dengan inputan pada pengolahan pertama,dari perhitungan itu kita dapatkan data residual tahap ke2 yang tujuanya adalah mendapatkan lapisan yang kita inginkan atau formasi batuan yang kita inginkan. perlu di ketahui bahwa proses anomaly residual tahap pertama hanya bisa menentukan lapisan bawah atau basemen, sedangkan tahap selanjutnya untuk penentuan lapisan yang di atasnya.

Model metode yang di gunakan juga merupakan model metode yang di kembangkan oleh penafsiran2 dari para ahli geofisika tentang gravity. pada proses ini penentuan lapisan karbonat dari data pengukuran hanya bisa di lakukan dengan melakukan re calculation terhadap data anomaly residual tahap pertama, selanjutnya dari data regional kita lakukan perhitungan ulang dengan inputan pada pengolahan pertama,dari perhitungan itu kita dapatkan data residual tahap ke2 yang tujuanya adalah mendapatkan lapisan yang kita inginkan atau formasi batuan yang kita inginkan. perlu di ketahui bahwa proses anomaly residual tahap pertama hanya bisa menentukan lapisan bawah atau basemen, sedangkan tahap selanjutnya untuk penentuan lapisan yang di atasnya.

picture 2 3D modeling with slicing 2D model
Langganan:
Komentar (Atom)













